HUJAN
Rindi Antika
Hujan deras telah mengguyur kota Bandung lebih dari dua jam. Tidak ada tanda tanda dari langit untuk berhenti menumpahkan air. Masih mendung. Angga berdiri menunggu dengan kesal di Terminal bis Ledeng. Di Terminal itu hanya ada dia dan dua orang calon penumpang lainnya. Begitu sepi tidak seperti hari-hari biasa. Ia mengotak-atik handphone-nya.
“Sial! Kemana perginya bis-bis bodoh itu?”,umpatnya dalam hati. Ia telah dua jam lebih menunggu bis. Namun tak kunjung datang.
“Mereka bilang ada banjir besar. Kupikir bis itu takkan lewat kesini.”
Suara itu membuyarkan pikiran Angga yang sedang membayangkan sebuah bis yang datang disupiri oleh seorang bidadari yang cantik namun berseragam Damri.
“Benarkah? Siapa yang bilang?” Angga bertanya kepada suara yang tadi. Suara itu milik seorang anak SMA bernama Antika yang sedang duduk dibangku dekat Angga.
“Apakah kau tak percaya padaku?”,tanya Antika.
“Bukan begitu.”, Angga memasukan handphone-nya ke dalam tas. Ia sedang malas mengobrol apalagi dengan anak SMA. “Tapi.. ah sudahlah.”
“Sepertinya kau sudah kehilangan kepercayaan terhadap apapun. Apa aku benar?”
“Maksudmu?”
“Jika aku bilang bahwa aku ini hanya ada didalam pikiranmu. Apakah kau akan percaya?”
“Tentu saja jika ada fakta-fakta tak terbantahkan mengenai itu semua. Seperti ketika kau menjelaskan hujan.”
“Menurutmu hujan itu apa?”,tanya Antika.
“Hujan adalah presipitasi atau turunan cairan dari angkasa. Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tapi maaf aku malas beromong kosong dengan anak kecil.”
“Benar-benar penjelasan yang menarik.” Antika menarik nafasnya. “Hmm.. aku selalu suka bau hujan” 

“Itu adalah petrichor, minyak yang diproduksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh batuan dan tanah dan kemudian dilepas ke udara pada saat hujan..”
“Kau ini tahu banyak hal ya? Eh namamu Angga kan?”
Angga kaget. Kenapa anak itu bisa mengetahui namanya. “Apa kau mengenalku? Kenapa kau bisa tahu?”
“Karena aku percaya kamu bernama Angga.”
“Aku tidak mengerti”
“Aku juga. Yang perlu kamu lakukan adalah percaya. Itulah yang selalu dilakukan oleh para pawang hujan.”
“Apakah ketika aku percaya bahwa aku bisa menghentikan hujan maka aku akan dapat menghentikan hujan?”
“Tentu saja”
Entah kenapa Angga memejamkan matanya berharap ketika ia membuka mata hujan akan berhenti. Setelah ia membuka mata ia kaget setengah mati. Hujan berhenti. Benar-benar berhenti. Ada milyaran tetes hujan namun semuanya tidak ada yang jatuh ke tanah. Mereka diam. Sepertinya waktu telah menghentikan hujan untuk bergerak. Angga masih tercengang namun Antika diam saja. Dua orang lain yang ada di halte itu pun terkejut dan mencoba meraih tetesan hujan-hujan itu dan semuanya pecah di genggaman.
“A..a apa yang kau lakukan??”,tanya Angga kepada Antika.
“Aku? Kaulah yang melakukannya!”
“Ta..tapi aku tak mengerti..”,Angga memegang kedua kepalanya yang terlalu pusing untuk memikirkan hal aneh ini.
“Tidak semua hal di dunia ini butuh penjelasan.”,Antika menepuk tangannya sekali dan setiap tetes hujan kembali menetes ke tanah.
“Hei..”
“Suatu saat kau akan mengerti”
Antika meraih tangan Angga membawanya ke jalan raya dan menari-nari dibawah hujan layaknya orang India. Mereka melakukan putaran-putaran sambil tertawa. Berbicara sesekali namun tertawa lagi dan sesaat itu juga sesosok bayangan besar menyambar mereka berdua.
***
Hujan telah berhenti. Halte itu kini menjadi begitu ramai. Ada dua mobil polisi, satu ambulance, satu mobil statsiun tv lokal, sebuah bis dan orang-orang sekitar yang ingin tahu ada apa. Terlihat seorang polisi sedang menanyai dua orang yang sebelumnya menunggu bis di halte yang sama dengan Angga.
“Jadi?”
“Entahlah.Aku pun tak mengerti. Kupikir ia hanya mahasiswa biasa yang sedang menunggu bis seperti aku dan temanku. Namun orang itu tiba-tiba berbicara sendiri lalu menari-nari di jalan dan akhirnya tertabrak bis. Semuanya terjadi begitu cepat.”
MIMPI TERINDAH SEBELUM MATI
Rindi Antika
CLERERIO MEIGHTLAN, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. “Mati muda,” kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium keningku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman di kening seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.
Nafasku terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. “Ayah harus ke luar negeri,” kata ibuku padaku suatu malam.
“Untuk apa?” tanyaku. “Untuk bekerja,” sahut ayahku. “Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini.”
Aku memasang wajah tak percaya, “Ayah janji?” Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Clererio Meightlan. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. “Ayah sudah terbang ke surga,” katanya.
Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, “Apa ayahku ada di sana?”
“Benar,” jawabnya.
“Di mana?”
“Di langit ke tujuh.”
“Apa kita bisa ke sana?” tanyaku tak sabar.
“Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” sahutku semangat.
“Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat.”
“Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!” aku berteriak.
“Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang.”
“Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun.”
“Percayalah, kau akan menyukainya.”
“Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?”
“Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang.”
“Benarkah?”
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.
“Apa kita bisa menghitung suara ini?” kataku menunjuk bunyi jantungku.
“Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai.”
“Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai.”
“Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?”
“Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati.”
“Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?”
“Ya.”
“Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?”
“Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?”
“Tentu saja.”
“Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi,” kataku pelan.
“Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya,” jawab laki-laki itu.
“Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami.”
“Bagaimana dengan temanmu, Clererio?”
“Bagaimana dengan temanmu, Clererio?”
Aku terhenyak. Clererio? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Clererio akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Clererio Meightlan, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.
Aku lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Clererio, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Clererio Meightlan, menciumi keningku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Clererio, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, “Hei, itu kau, Clererio. Kau juga di sini?” tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Clererio. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat. Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, “Aku akan merindukan kau yang selalu mencium keningku, Clererio Meightlan.” Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis.
***
Kajian Prosa Fiksi Indonesia
Mengkaji Cerpen Pendekatan Struktural Todorov dan Pendekatan Sosiologi Sastra
“Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini”
Pendahuluan
Di era yang semakin globalisasi ini, tak urung dan tak lepas perkembangan karya sastra juga semakin maju, khususnya prosa yang merupakan hasil penuangan ide, gagasan, pikiran para penghasil sastra dengan usaha yang keras. Sekarang ini banyak muncul para sastrawan baru, khususnya di bidang penulisan cerita pendek. Mulai dari orang biasa hingga artis pun mencoba menggepakkan karyanya lewat cerita pendek bahkan novel.
Metode pendekatan yang sering digunakan dalam mengkaji suatu karya sastra adalah pendekatan struktural. Pendekatan ini dapat mengupas karya sastra atas dasar strukturnya. Akan tetapi, pendekatan ini baru merupakan kerja pendahuluan karena karya sastra merupakan bagian atau mata rantai sejarah sastra dan sejarah bangsanya. Dengan demikian karya sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-budayanya (Teeuw, 1983 :61)
Dalam membaca dan memahami karya sastra bukanlah hal yang gampang atau mudah. Menurut Culler (1975: 134) mengatakan bahwa membaca sastra adalah kegiatan yang paradoksal, yaitu kita menciptakan kembali dunia ciptaan, dunia rekaan, dan menjadikannya sesuatu yang akhirnya dapat kita kenali. Salah satu cara memahami karya sastra adalah dengan mengkaji atau menganalisis karya sastra tersebut.
Dalam perkembaangannya, strukturalisme mengalami beberapa perubahan dalam menilai dan menganalisis sastra. Salah satu perkembangannya adalah naratologi strukturalis, yang merupakan pendekatan dalam bidang naratif. Beberapa tokoh sastra strukturalis mencetuskan teori-teori mereka setelah melakukan penelitian dari teks-teks naratif.
PENDEKATAN STRUKTURAL TODOROV
Todorov merupakan salah satu yang mencetuskan teorinya atas dasar naratif. Teori naratif strukturalis berkembang dari analogi-analogi linguistik dasar tertentu. Sintaksis adalah model dasar aturan naratif. Pendekatan yang Todorov gembar-gemborkan waktu itu adalah “sintaksis naratif”.
Pendekatan Struktural Todorov memiliki tiga aspek, yaitu Aspek Sintaksis, Aspek Semantik, dan Aspek Verbal atau Pragmatik. Aspek Sintaksis meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis, khusus dalam alur, Aspek Semantik meneliti tokoh dan latar, dan Aspek Verbal meneliti gaya penceritaannya.
A. Sintaksis
a. Alur (fungsiutama)
F1=Martini akan menginjakkan kakinya di Indonesia
F2= Martini tidak sabar untuk segera bertemu dengan keluarganya.
F3= Selama di perjalanan, Martini membayangkan ia yang selalu disiksa oleh majikannya selama menjadi TKW dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia
F4= Martini telah sampai di bandara, ia kecewa karena tidak ada keluarganya yang menjemput
F5= Martini memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara
F6= Martini telah sampai di depan rumahnya hanya ada Andra anak Martini yang menyapa
F7= Ibu Martini datang dari rumahnya menghampiri Martini
F8= Martini menanyakan suaminya yang bernama Koko, tapi ibu Martini tidak mau bercerita
F9= Martini gelisah, lalu tetap mencari tahu keberadaan Koko kepada ibunya
F10= Ibu Martini menceritakan Koko sudah menikah lagi
F11= Martini menangis, ia sedih marah dan kalut
F12= Martini mendatangi rumah Koko sambil berjalan membabi buta
F13= Martini berteriak di depan rumah Koko
F14= Koko menghampiri bersama istri barunya yang langsung meledek Tini
F15= Martini semakin geram lalu mencoba membunuh Koko dan istrinya dengan bambu
F16= Martini jatuh pingsan lalu warga menggotong
F17= Ibu Martini menasehati Martini setelah sadar dari pingsannya
F18= Martini menceraikan Koko dan memulai hidup baru dengan Ibu Martini dan Andra
b. Analisis Pengaluran (Sekuen)
S1= Martini, seorang TKW yang mendapat siksaan di Arab Saudi oleh majikannya, kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari, Gunung Kidul. Di dalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru.
S2= Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi
S3= Selama di perjalanan, Martini selalu membayangkan betapa sakitnya menjadi TKW yang terus disiksa. Awalnya Martini diperlakukan sangatlah baik, hingga Martini diumrohkan oleh majikannya, tetapi beberapa bulan kemudian Martini mulai tidak betah. Martini harus bekerja selama 24 jam, terakhir Martini disetrika oleh majikannya, disundut rokok, hingga kepala Martini ditenggelamkan ke dalam bak mandi. Setiap harinya seperti itu yang dialami Martini.
S4= Sesampainya di bandara tidak ada yang menjemput Martini, Martini sangatlah kecewa lalu ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.
S5 = Sesampainya di rumah, Martini tidak bertemu dengan suami dan ibunya, yang ia temui hanya Andra anaknya yang sudah berumur 6 tahun tapi masih tidak mengenali martini. Andra memanggil neneknya lalu neneknya datang menyapa.
S6 = Martini menanyakan keberadaan suaminya kepada sang ibu, tetapi sang ibu tidak mau menceritakannya. Martini gelisah,ia memaksa untuk ibunya menceritakan dimana Koko.
S7 = Ibu Martini menceritakan bahwa Koko sudah membuat rumah hasil dari jerih payah Martini, tetapi kini Koko sudah berkhianat karena Koko sudah menikah lagi dan memakai rumah barunya itu untuk memulai hidup baru dengan wanita tersebut, sentak Martini menangis dan kecewa.
S8 = Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih marah dan kalut. Tetatpi Martini berani menekatkan diri untuk menemui Koko dan istrinya di rumah baru yang mereka tinggali.
S9 = Sesampainya di rumah baru Koko, Martini berteriak mencaci Koko dan istrinya di depan rumah, Koko keluar bersama istri barunya. Istri barunya Koko mencaci maki Martini, Martini semakin geram. Martini mencoba membunuh Koko dan istri barunya dengan melayangkan bambu runcing ke tubuh mereka, tapi sayang Martini yang jatuh pingsan akibat terjatuh dari tangga saat ingin melayangkan bambu.
S10 = Martini dibawa ke rumah, setelah itu dinasehati oleh ibunya. Agar mengikhlaskan Koko yang mengkhianatinya. Martini berniat untuk menceraikan Koko.
S11 = Berita tentang Martini menyebar membuat Pemerintah Daerah ikut iba dan membantu Martini. Martini diberikan modal untuk berwirausaha kemudian menjalani hidup baru tanpa menjadi TKW bersama ibu dan anaknya. Martini mengikhlaskan Koko, suami Martini yang tidak bertanggungjawab.
c. Analisis Pengaluran
Martini, seorang TKW yang mendapat siksaan di Arab Saudi oleh majikannya, kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari, Gunung Kidul. Di dalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru.Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi, negara di mana selama ini ia bekerja walaupun perjuangan mendapatkan uang yang besar harus mengorbankan wajahnya yang terbakar akibat disetrika majikannya.
Selama di perjalanan, Martini selalu membayangkan betapa sakitnya menjadi TKW yang terus disiksa. Awalnya Martini diperlakukan sangatlah baik, hingga Martini diumrohkan oleh majikannya, tetapi beberapa bulan kemudian Martini mulai tidak betah. Martini harus bekerja selama 24 jam, terakhir Martini disetrika oleh majikannya, disundut rokok, hingga kepala Martini ditenggelamkan ke dalam bak mandi. Setiap harinya seperti itu yang dialami Martini.
Sesampainya di bandara, dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh–jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.
Tanpa ia sadari, Martini telah sampai di depan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas Koko, Andra dan ibunya yang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikit pun, kecuali kandang sapi di dekat rumahnya yang kini telah kosong.Martini tidak bertemu dengan suami dan ibunya, yang ia temui hanya Andra anaknya yang sudah berumur 6 tahun tapi masih tidak mengenali martini. Andra memanggil neneknya lalu neneknya datang menyapa.
Martini menanyakan keberadaan suaminya kepada sang ibu, tetapi sang ibu tidak mau menceritakannya. Martini gelisah, ia memaksa untuk ibunya menceritakan dimana Koko.Ibu Martini menceritakan bahwa Koko sudah membuat rumah hasil dari jerih payah Martini, tetapi kini Koko sudah berkhianat karena Koko sudah menikah lagi dan memakai rumah barunya itu untuk memulai hidup baru dengan wanita tersebut, sentak Martini menangis dan kecewa.
Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih marah dan kalut. Tetapi Martini berani menekatkan diri untuk menemui Koko dan istrinya di rumah baru yang mereka tinggali.Sesampainya di rumah baru Koko, Martini berteriak mencaci Koko dan istrinya di depan rumah, Koko keluar bersama istri barunya. Istri barunya Koko mencaci maki Martini, Martini semakin geram. Martini mencoba membunuh Koko dan istri barunya dengan melayangkan bambu runcing ke tubuh mereka, tapi sayang Martini yang jatuh pingsan akibat terjatuh dari tangga saat ingin melayangkan bambu.
Martini dibawa ke rumah, setelah itu dinasehati oleh ibunya. Agar mengikhlaskan Koko yang mengkhianatinya. Martini berniat untuk menceraikan Koko.Berita tentang Martini menyebar membuat Pemerintah Daerah ikut iba dan membantu Martini. Martini diberikan modal untuk berwirausaha kemudian menjalani hidup baru tanpa menjadi TKW bersama ibu dan anaknya. Martini mengikhlaskan Koko, suami Martini yang tidak bertanggungjawab.
d. Bagan Alur Cerpen Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini
![]() |
S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11
B. Semantik
a. Tokoh
1. Martini : Wanita teraniaya, lembut, nabar, nekat, mudah berontak bila disakiti dan dikhianati.
** Martini adalah salah satu wanita Indonesia yang teraniaya. Ia disiksa majikannya di Arab Saudi :
“Di dalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi, negara di mana selama ini ia bekerja walaupun perjuangan mendapatkan uang yang besar harus mengorbankan wajahnya yang terbakar akibat disetrika majikannya.”
“Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja walaupun sering disiksa. Selama di perjalanan, Martini selalu membayangkan betapa sakitnya menjadi TKW yang terus disiksa. Awalnya Martini diperlakukan sangatlah baik, hingga Martini diumrohkan oleh majikannya, tetapi beberapa bulan kemudian Martini mulai tidak betah. Martini harus bekerja selama 24 jam, terakhir Martini disetrika oleh majikannya, disundut rokok, hingga kepala Martini ditenggelamkan ke dalam bak mandi. Setiap harinya seperti itu yang dialami Martini.”
**Walaupun kedatangan Martini tidak dijemput oleh sanak saudara dan keluarganya Martini tetap sabar dan berpikiran huznuzon, ia merelakan pulang sendiri menggunakan taksi dari bandara:
“Sesampainya di bandara, dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh–jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.“Mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwal kepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya husnuzon.
**Martini adalah wanita yang lembut berasar dari Jawa. Selalu bersikan huznuzon dan selalu memakai kata-kata lembut dan ramah
“Mana rumah baru yang mas Koko bangun seperti yang ada di foto yang mas Koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah di tempat lain dan membangunnya di sana? Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba husnuzon.Ia ketuk perlahan–lahan pintu rumahnya. Namun tidak ada seorang pun yang muncul membukakan pintu. “Kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”.
**Tetapi setelah mendapatkan berita buruk bahwa suaminya telah menikah lagi, Martini berubah menjadi wanita yang nekat dan pemberontak. Kesabarannya sudah habis, ia tidak rela Koko suaminya menikah lagi dan menempati rumah baru dengan istri barunya yang padahal hasil jerih payah Martini :
”Kenapasimboktidakmaumemberitahu?Apakahsimbokmerestuinya?Apakahsimbokmendukungnya?Apakahsimbokmembelabajinganitudaripadasayaanakmusendiri?Apakah…..”
“Ya sudah kalau si mbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halaman depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengejarnya.“Hei, mana Koko, bajingan sialan,” teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah padam. Pikirannya kacau balau.
“Hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau Koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini? Dasar bajingan!”Dengan cepat Martini meraih sebuah bambu yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju ke arah Koko dan istri barunya.
2. Si Mbok (Ibu Martini) : Lemah, sabar, bijaksana, penyayang.
** Si mbok merupakan ibu dari Martini yang lemah dan sabar. Semenjak ditinggal Martini si Mbok tinggal bersama Koko dan Andra cucunya saja. Ketika Koko menikah lagi dan meninggalkan Si Mbok dan Andra, Si Mbok tidak bisa berbuat apa-apa karena memang si Mbok merupakan ibu dari Martini yang sudah tua renta :
”Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si mbok. Tentu saja si mbok marah besar kepadanya. Namun apa daya, si mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si mbok pegang pun pas–pasan. Mau mengirim surat kepadamu si mbok tidak bisa, kamu tahu kan si mbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu–satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”.
”Sudah, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si mbok. Namun sampai saat ini si mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara–suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
**Walau begitu si Mbok tetaplah seorang ibu yang bijaksana dan penyayang, seberapa besar masalah yang dihadapi anaknya si Mbok tetap mengingatkan Tini untuk memasrahkan semua ujian hidup yang terjadi pada anaknya :
“Mbokmu bilang apa Tin, suamimu itu sudah kurang waras, bagaimanapun kamu marah-marah dia sudah tidak peduli. Eling Tin, pasrahkan sama gusti Allah. Semoga si Koko dapat ganjaran yang lebih”. Mbok menenangkan Tini dipelukan sambil mengusap rambut Tini.
3. Koko : Suami yang tidak bertanggungjawab, pemanfaat istri, tidak tau diri, tukang selingkuh dan tidak tau terimakasih.
**Koko memang sosok yang diceritakan pengarang sebagai suami yang tidak bertanggungjawab dan tega terhadap istri. Ia memanfaatkan uang istrinya untuk menikah lagi. Padahal Martini, istri Koko mencari uang tersebut dengan nyawa taruhannya.
“ Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya.
“Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di arab Saudi”
“ Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu terlihat dengan mesranya berdiri di samping Koko yang meletakkan kedua tangannya di pinggang koko.”
4. Istri baru Koko : Wanita yang tidak tau malu, berkata kasar dan tegaan.
Istri barunya itu terlihat dengan mesranya berdiri di samping Koko yang meletakkan kedua tangannya di pinggang koko.”Hei, siapa kamu? Tini ya? Kenapa kamu ke sini? Ini rumahku bersama mas Koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu, mas Koko?” ujar wanita yang ada di sebelah Koko sambil mengalungkan tangan kanannya di leher Koko dengan lembutnya.
5. Andra : Anak kandung dari Martini berusia 5 tahun, polos dan belum sempat mengenali Tini sebagai ibu kandungnya.
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka. ”Madosi sinten, mbak?” tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah Andra yang muncul dari balik pintu.
“Ayah? Kedatangan ibu? Oh, mari masuk. Sebentar ya, Andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju ke arah kamar neneknya.
b. Latar
Cerpen ini berlatarkan di beberapa tempat. Arab Saudi, Bandara, Terimianl Pulogadung, Wonosari (depan dan dalam rumah Martini), dan rumah Koko
** Arab Saudi :
“Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi, negara di mana selama ini ia bekerja walaupun perjuangan mendapatkan uang yang besar harus mengorbankan wajahnya yang terbakar akibat disetrika majikannya.”
“Itulah yang dialami Martini, majikannya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan minyak di sana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya.”
** Bandara
“Sesampainya di bandara, dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh–jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.”
** Terminal Pulogadung
“Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.”
** Wonosari
“Wanita itu bernama Martini. Kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari, Gunung Kidul.”
“Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.”
”Tanpa ia sadari, Martini telah sampai di depan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas Koko, Andra dan ibunya yang telah renta.”
“Martini masuk ke dalam rumah dan duduk di atas amben yang terletak di sudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan di dalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumah pun tidak tampak ada perubahan yang berarti.”
** Rumah Koko
“Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganya itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu terlihat dengan mesranya berdiri di samping Koko yang meletakkan kedua tangannya di pinggang koko.”
“Dengan cepat Martini meraih sebuah bambu yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju ke arah Koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju ke dalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkan bambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bambu itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri. Melihat Tini terjatuh Koko dan istrinya masuk ke dalam rumah, warga membantu menggotong Tini ke rumahnya.”
C. Pragmatik
a. Modus
Cerita dalam cerpen ini sebagian besar berbentuk narasi atau yang diceritakan,sehingga efek yang ditimbulkan dari yang cerpen ini adalah tingkat kepahaman pada pembaca yang jelas karena padau mumnya yang diceritakan akan lebih jelas dan tuntas dalam penceritaannya, meskipun dialog ada, tetapi sebagian besar cerpen ini menceritakan peristiwa lewat yang dinarasikan. Sedangkan kadang-kadang apabila hanya dengan dialog keterpahaman pembaca terhadap cerita akan sulit, karena dialog tidak semua menjelaskan peristiwa yang terjadi dalam cerita.
b. Kala
Cerita atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini digambarkan dalam keadaan keharuan dan ketegangan. Dimana Martini TKW asal Indonesia pulang ke Tanah Air karena Martini tidak tahan disiksa oleh majikannya di Arab. Disetrika, disundut rokok dan ditenggelamkan dalam bak, sudah dialami Martini. Martini pulang ke Tanah Air dengan pengharapan dijemput oleh sanak saudara atau keluarganya. Tetapi ternyata Martini mengalami gejolak kehidupan yang sangat menyedihkan. Selama 3 tahun bekerja di Arab suami yang amat dicintainya pergi meninggalkan marini dan anaknya demi wanita lain. Ia menggunakan uang yang dikirim Martini untuk membeli rumah baru dan ditempatinya bersama istri baru. Keharuan yang sangat ditonjolkan dalam cerpen ini dimana Andra anak dari Martini yang ditinggal selama 3 tahun, tidak mengenali Martini. Andra hidup bersama neneknya yang merupakan ibu dari Martini yang sudah tua renta. Kemudian ketegangan yang digambarkan dalam cerpen ini, ketika Martini menemui Koko suaminya yang sudah tinggal di rumah barunya bersama istri baru dengan membabi buta. Ia mengambil bambu runcing dekat pohon untuk membunuh Koko dan istri barunya, tetapi meleset. Akibatnya Martini yang terjatuh pingsan dan digotong ke rumahnya.
c. Sudut pandang
Pengarang bertindak sebagai orang ketiga. Mengamati, Menjelaskan peristiwa yang berlangsung serta suasana perasaan dan pikiran para tokoh dalam cerita. Pengarang membuat cerita ini bermaksud untuk mengangkat kisah para TKW di Indonesia yang belum mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah. Bukan hanya Martini TKW yang mendapat siksaan, masih banyak TKW yang pulang ke Tanah Airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba–tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan. Kemudian pengarangpun ingin menyampaikan bahwa kenyataan hidup yang dialami para TKW tidak sebahagia yang ada dalam pikiran orang lain. Hidup mereka dipenuhi dengan kecemasan akan keluarga yang ditinggalkan. Tapi mereka tetap sabar, selalu bekerja keras semata-mata untuk membahagiakan keluarga. Jadi, kita mesti belajar dari kehidupan mereka dalam memaknai hidup kita sendiri.
PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
Sosiologi sastra adalah pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya (Ratna, 2003: 3). Sosiologi sastra diterapkan dalam penelitian ini karena tujuan dari sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan, dalam hal ini karya sastra dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya dan karya sastra bukan semata-mata merupakan gejala individual tetapi gejala sosial (Ratna, 2003: 11).
Istilah Sosiologi Sastra dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudah terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Teeuw : 13: 2003).
Sosiologi sastra adalah analisis karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, maka model analisis yang dapat dilakukan meliputi tiga macam, sebagai berikut :
1. Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. Pada umumnya disebut sebagai aspek ekstrinsik, model hubungan yang terjadi disebut refleksi.
2. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antar struktur, bukan aspek-aspek tertentu, dengan model hubungan yang bersifat dialektika.
3. Menganalisis karya dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu, dilakukan oleh disiplin tertentu. Model analisis inilah yang pada umumya menghasilkan penelitian karya sastra sebagai gejala kedua.
Dikaitkan dengan perkembangan penelitian karya sastra, penelitian yang kedulah yang dianggap lebih relevan. Pertama, dibandingkan dengan model penelitian yang pertama dan ketiga, dalam model penelitian yang kedua karya sastra bersifat aktif dan dinamis sebab keseluruhan aspek karya sastra benar-benar berperanan. Kedua, dikaitkan dengan ciri-ciri sosiologi sastra kontemporer, justru masyarakatlah yang harus lebih berperanan. Masyarakatlah yang mengkondisikan karya sastra, bukan sebaliknya.
Pengarang membuat cerpen “Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini” ini berdasarkan kisah di kehidupan masyarakat sekarang. Tidak jarang seorang TKW pulang ke tanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba–tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat Kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk. Itulah yang dialami Martini, majikannya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan minyak di sana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja walaupun sering disiksa. Selama di perjalanan, Martini selalu membayangkan betapa sakitnya menjadi TKW yang terus disiksa. Awalnya Martini diperlakukan sangatlah baik, hingga Martini diumrohkan oleh majikannya, tetapi beberapa bulan kemudian Martini mulai tidak betah. Martini harus bekerja selama 24 jam, terakhir Martini disetrika oleh majikannya, disundut rokok, hingga kepala Martini ditenggelamkan ke dalam bak mandi. Setiap harinya seperti itu yang dialami Martini.
Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya. Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersuka cita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berduka cita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula. Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Hukum wanita bekerja adalah mubah (dibolehkan oleh Islam) yang tentunya kebolehan itu disertai dengan pelaksanaan hukum Allah lainnya. Misal, bila wanita itu sudah berumah tangga, selama kewajibannya sebagai ummuwarabatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga) tetap terpenuhi maka dibolehkan.
Banyak kasus yang menunjukkan tidak ada jaminan keamanan TKW. Sudah sering kita dengar dan kita saksikan Muslimah saudari kita yang bekerja di luar negeri, di negara manapun mereka berada, mayoritas mereka bekerja di sektor informal yakni sekitar 78 persen, dan yang paling banyak menjadi pembantu rumah tangga. Dan kita juga tahu bahwa mereka mendapat perlakuan tidak manusiawi, dianiaya dan dizalimi.
Meski ada sebagian mereka yang beruntung, namun tidak bisa menghapus begitu saja nasib TKW yang buntung. Pedih rasanya saat memikirkan saudari kita ini pergi jauh, bekerja demi keluargatetapidianiaya. Ada lagi kondisi yang rusak luar biasa, Muslimah kita di luar negeri banyak yang menjadi pelacur, bahkan terorganisasi semacam tempat lokalisasi. Di sana mereka tidak mendapatkan jaminan keamanan, perlindungan, pemenuhan kebutuhan pokok, selain harus dengan bekerja. Dan banyak dari mereka yang tidak dibayar gajinya, ada yang diberhentikan kerja secara sepihak, sakit karena kerja yang tidak dibatasi waktu, pelecehan seksual dan pemerkosaan, penyiksaan bahkan hingga kematian.
Maka dari itu, pengarang mengangkat nilai sosial dimana kenyataan hidup yang dialami para TKW tidak sebahagia yang ada dalam pikiran orang lain. Hidup mereka dipenuhi dengan kecemasan akan keluarga yang ditinggalkan seperti yang dialami Martini. Tapi mereka tetap sabar, selalu bekerja keras semata-mata untuk membahagiakan keluarga. Jadi, kita mesti belajar dari kehidupan mereka dalam memaknai hidup kita sediri. TKW tak sepantasnya memperoleh penghinaan, yang justru tidak jarag seorang TKW pulang ke tanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang di kandungnya. Atau di siksa, di gilas di bawah setrikaan, atau tiba-tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa karena hidupnya di tentukan oleh vonis hakim.
Jabatan setinggi apapun atau sekaya apapun seseorang, sepatutnya tetap menghargai sesama manusia tak terkecuali TKW. Alangkah baiknya seseorang saling berinteraksi telah mengenali satu sama lainnya. Betapa pun beratnya permasalahan yang kita hadapi, alangkah baiknya kalau kita kembalikan pada tuhan. Kesabaran sangatlah penting untuk kita jaga demi tentramnya hidup kita. Di balik permasalahan, pasti ada hikmah yang bikin kita bahagia. Seperti Martini TKW yang mempunyai kesabaran dan ketegaran yang luar biasa. Ia mampu bangkit kembali dari kesedihannya. Lebih memilih meninggalkan suaminya yang mengkhiantai dan berani membuka usaha sendiri di dalam negeri dibanding kembali lagi menjadi TKW.
Semua itu dimunculkan oleh pengarang sesuai dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Hubungan antar struktur yang menjadi sebuah cerita sesuai dengan apa yang dialami pengarangnya sendiri. Sehingga jelas, bahwa karya sastra dalam pendekatan sosiologi merupakan karya yang ada karena adanya masyarakat yang dengan secara tidak langsung masuk atau dapat mengkondisikan karya sastra itu sendiri. Dengan kata lain, bahwa adanya suatu kondisi masyarakat, entah itu berupa sejarah, budaya, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang juga di alami atau ada kaitannya dengan pengarangnya sendiri, itu semua bisa memunculkan sebuah karya sastra di mana dari semua peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat itu dimasukkan ke dalam sebuah karya sastra. Sehingga timbul lah pendekatan Sosilogi Sastra yang dimaksudkan di atas.
CERPEN
Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini
Kurniawan Lestanto
Wanita itu bernama Martini. Kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari, Gunung Kidul.
Di dalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi, negara di mana selama ini ia bekerja walaupun perjuangan mendapatkan uang yang besar harus mengorbankan wajahnya yang terbakar akibat disetrika majikannya.
Tidak jarang seorang TKW pulang ke tanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba–tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat Kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk. Itulah yang dialami Martini, majikannya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan minyak di sana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja walaupun sering disiksa. Selama di perjalanan, Martini selalu membayangkan betapa sakitnya menjadi TKW yang terus disiksa. Awalnya Martini diperlakukan sangatlah baik, hingga Martini diumrohkan oleh majikannya, tetapi beberapa bulan kemudian Martini mulai tidak betah. Martini harus bekerja selama 24 jam, terakhir Martini disetrika oleh majikannya, disundut rokok, hingga kepala Martini ditenggelamkan ke dalam bak mandi. Setiap harinya seperti itu yang dialami Martini.
Sesampainya di bandara, dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh–jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“Mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwal kepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya husnuzon. Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.
Tanpa ia sadari, Martini telah sampai di depan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas Koko, Andra dan ibunya yang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikit pun, kecuali kandang sapi di dekat rumahnya yang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalu tatkala ia meninggalkan rumah tersebut. “Mana rumah baru yang mas Koko bangun seperti yang ada di foto yang mas Koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah di tempat lain dan membangunnya di sana? Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba husnuzon.Ia ketuk perlahan–lahan pintu rumahnya. Namun tidak ada seorang pun yang muncul membukakan pintu. “Kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”. Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka. ”Madosi sinten, mbak?” tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah Andra yang muncul dari balik pintu.“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya? Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap Martini balik bertanya. “Ayah? Kedatangan ibu? Oh, mari masuk. Sebentar ya, Andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju ke arah kamar neneknya.Martini masuk ke dalam rumah dan duduk di atas amben yang terletak di sudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan di dalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumah pun tidak tampak ada perubahan yang berarti.“Martini ya.
Wah–wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu Martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh Andra , membawakan segelas teh hangat.”Bagaimana keadaan si mbok disini?” tanya Martini.“Oh, anakku si mbok di sini baik–baik saja, kamu sendiri bagaimana, Tini?” “Saya baik–baik saja mbok, ngomong–ngomong mas Koko di mana mbok?” tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba–tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir–pikir sejenak.
“Oh mengenai suamimu, nanti akan si mbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa teh hangatnya diminum dulu,” saran ibu Martini. martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas teh hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya; di mana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah di perantauan? Di mana letak rumah barunya, atau apakah mas Koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?
“Ah, tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap husnuzon. Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak di pawon.“Maaf mbok, di mana mas Koko, Tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar Martini membuka kembali percakapan. Ibu Martini tampak kembali berpikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ Minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti si mbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. “ Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si mbok. Tentu saja si mbok marah besar kepadanya. Namun apa daya, si mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si mbok pegang pun pas–pasan. Mau mengirim surat kepadamu si mbok tidak bisa, kamu tahu kan si mbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu–satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih marah dan kalut. “Mengapa si mbok tidak melaporkannya ke pak Kadus dan pak Kades?” ”Sudah, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si mbok. Namun sampai saat ini si mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara–suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.“Duh Gusti…., paringono sabar…,.” terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di arab Saudi.“Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
Wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.“Mbok, di mana mbok,” suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.”Kenapa si mbok tidak mau membertahu? Apakah si mbok merestuinya? Apakah si mbok mendukungnya? Apakah si mbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah…..” “Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan, nak, ingatlah kepada Gusti Allah, nak!” Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.“Ya sudah kalau si mbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halaman depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengejarnya.“Hei, mana Koko, bajingan sialan,” teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah padam. Pikirannya kacau balau.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan Andra, tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu. Kurang apa aku??”Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba–tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180 derajat. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab Saudi? Apakah ia dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganya itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu terlihat dengan mesranya berdiri di samping Koko yang meletakkan kedua tangannya di pinggang koko.”Hei, siapa kamu? Tini ya? Kenapa kamu ke sini? Ini rumahku bersama mas Koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu, mas Koko?” ujar wanita yang ada di sebelah Koko sambil mengalungkan tangan kanannya di leher Koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat Tini makin marah.“Hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau Koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini? Dasar bajingan!”Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bambu yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju ke arah Koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju ke dalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkan bambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bambu itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri. Melihat Tini terjatuh Koko dan istrinya masuk ke dalam rumah, warga membantu menggotong Tini ke rumahnya.
“Mbokmu bilang apa Tin, suamimu itu sudah kurang waras, bagaimanapun kamu marah-marah dia sudah tidak peduli. Eling Tin, pasrahkan sama gusti Allah. Semoga si Koko dapat ganjaran yang lebih”. Mbok menenangkan Tini dipelukan sambil mengusap rambut Tini. “Mas Koko itu tega mbok, Tini kerja banting tulang toh untuk keluarga, mas Koko memanfaatkan Tini dengan membangun rumah lalu menikah dengan si perempuan murahan itu, Tini gak kuat mboook” Tini masih tetap menangis. Tetangga berdatangan ikut prihatin. Setelah tenang, Tini berniat untuk menceraikan Koko. Andra yang masih berumur 6 tahun baru tersadar bahwa yang sedang menangis dipelukan neneknya adalah ibu kandungnya. Dari cerita mulut ke mulut yang berasal dari tetangganya berita Martini itu pun sampai ke media masa, yang pada akhirnya Martini mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Uang hasil kerja kemarin selama di Arab Saudi dan yang diberikan oleh pemerintah ia pakai untuk membuka warung dan membetulkan rumahnya yang hanya didiami oleh Andra dan si Mbok ibunya.



