PEREMPUAN INDONESIA
Perempuan tak lepas dari perannya dalam berbagai hal. Baik di dalam politik, ekonomi, sosial, terutama di dalam bidang pendidikan. Terbukti dengan banyaknya tokoh perempuan, baik lokal, nasional, maupun internasional di dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih di bidang pendidikan sebagai pilar pokok dalam kiprahnya. Hal itu karena perempuan dianggap sebagai manusia yang mudah dekat dengan berbagai pihak, dalam hal ini anak didik. Ketika perannya di keluarga sebagai seorang ibu, maka perempuan tersebut adalah guru pertama bagi anaknya yang mengajarkan tentang bahasa, komunikasi, cara mencari dan menerima asupan makanan serta pendidikan. Bahkan secara keseluruhan, dialah yang pertama dan merawat serta menjaga proses tumbuh kembang anak-anaknya.
Di sekolah, siapa yang menyangsikan tentang peranan perempuan sebagai guru. Tentang kedekatannya dengan anak-anak didik. Tentang ketekunan, kerajinan, dan keuletan dengan tugas-tugasnya sebagai guru. Dan yang terpenting, maaf, guru perempuan adalah guru yang jarang diterpa gosip miring, misalnya tentang pelecehan dan kekerasan terhadap murid. Walhasil, itulah beberapa kelebihan guru perempuan di antara kekurangannya sebagai manusia biasa.
Berkaca dari sejarah nasional, sejatinya peran seorang perempuan dalam perjuangan kemerdekaan dan pendidikkan tidaklah kecil, di antaranya Cut Nya' Dhien, Cut Mutiah, Nyi Ageng Serang, Raden Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini, Nyi Ahmad Dahlan, Ny Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahahu, dan lainnya.
Khusus mengenai RA Kartini (1879-1904) di Jepara, Jawa Tengah dan Raden Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung, Jawa Barat, keduanya mempunyai keinginan, ide, gagasan, dan usaha yang kuat untuk mewujudkan adanya pendidikan bagi kaum perempuan yang waktu itu dimarjinalkan oleh adat dan pemerintah (Hindia Belanda). Akhirnya cita-cita keduanya terwujud.
Khusus mengenai RA Kartini (1879-1904) di Jepara, Jawa Tengah dan Raden Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung, Jawa Barat, keduanya mempunyai keinginan, ide, gagasan, dan usaha yang kuat untuk mewujudkan adanya pendidikan bagi kaum perempuan yang waktu itu dimarjinalkan oleh adat dan pemerintah (Hindia Belanda). Akhirnya cita-cita keduanya terwujud.
RA Kartini selain mengajar, ia pun mendirikan sekolah untuk perempuan di Jepara dan kemudian di Rembang. Selanjutnya berdiri pula sekolah RA Krtini di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.
Demikian pula dengan Raden Dewi Sartika, tahun 1902 ia berhasil menyelenggarakan pendidikan yang diawali kepada sanak keluarganya di belakang rumah ibunya. Kemudian pada 1904 ia mendirikan sekolah yang dinamai Sakola Istri dan setahun kemudian diubah menjadi Sakola Kautamaan Istri. Akhirnya berdiri pula sekolah-sekolah tersebut di luar Bandung, seperti di Garut, Majalengka, dan Tasikmalaya.
Kedua tokoh pahlawan nasional tersebut memberikan inspirasi dan motivasi terhadap kemajuan perempuan Indonesia. Perempuan tidak hanya berkiprah seputar dapur, kasur, dan sumur. Namun, dengan adanya pendidikan, perempuan mempunyai andil yang tak kalah dengan kaum laki-laki dalam memajukan berbagai bidang yang positif.
Realitas Sosial
Pada dasarnya perempuan Indonesia telah mengalami kemajuan yang signifikan bila dibanding beberapa tahun ke belakang. Dalam politik, banyak tokoh perempuan, katakanlah seperti Megawati Soekarnoputri, Yeni Wahid, Mutia Hatta, Khafifah Indah Parawangsa. Demikian pula dalam berbagai bidang lainnya mempunyai beberapa tokoh dari kalangan perempuan.
Namun, di samping kemajuan tersebut, kita tidak bisa menutup mata akan kondisi perempuan lainnya yang masih hidup terbelakang, terutama yang tinggal di pelosok-pelosok daerah. Keterbelakangan ekonomi dan pendidikan membuat keadaan mereka sangat memprihatinkan. Sehingga, hal tersebut merupakan salah satu penyebab suburnya penjualan manusia oleh sindikat, bahkan korbannya tidak sedikit yang berusia di bawah umur.
Di sisi lain, berbagai kasus penodaan, penistaan, penyiksaan, bahkan pembunuhan terhadap tenaga kerja perempuan Indonesia di luar negeri terus bermunculan. Prostitusi tidak bisa dienyahkan karena tidak ada alternatif usaha lain sebagai sumber penghasilan yang layak. Dan sejumlah masalah lainnya yang menjerat para perempuan Indonesia. Sebagai contoh kasus Marsinah, atau dewasa ini menimpa Darsem, TKW asal Subang yang terancam hukuman pancung karena membunuh majikannya dalam membela diri saat akan diperkosa oleh majikannya itu. Sungguh ironi kondisi-kondisi perempuan Indonesia tersebut.
Alternatif Solusi
Dengan adanya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementrian PP dan PA), sebenarnya pemerintah akan lebih fokus menangani masalah-masalah tentang perempuan. Beberapa terobosan akan mudah dilakukan. Menurut penulis, yang lebih utama adalah berkaitan dengan peningkatan masalah pendidikan dan ekonomi. Banyaknya TKW ke luar negeri dan penjualan manusia adalah salah satu potret lemahnya kondisi ekonomi keluarga mereka di tengah-tengah desakan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Lemahnya pendidikan dan minimnya pekerjaan di negeri sendiri yang sesuai dengan keterampilan dan jenjang pendidikan yang mereka miliki mendorong mereka nekat bekerja di luar negeri tanpa bekal keterampilan dan pengetahuan yang memadai.
Dengan adanya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementrian PP dan PA), sebenarnya pemerintah akan lebih fokus menangani masalah-masalah tentang perempuan. Beberapa terobosan akan mudah dilakukan. Menurut penulis, yang lebih utama adalah berkaitan dengan peningkatan masalah pendidikan dan ekonomi. Banyaknya TKW ke luar negeri dan penjualan manusia adalah salah satu potret lemahnya kondisi ekonomi keluarga mereka di tengah-tengah desakan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Lemahnya pendidikan dan minimnya pekerjaan di negeri sendiri yang sesuai dengan keterampilan dan jenjang pendidikan yang mereka miliki mendorong mereka nekat bekerja di luar negeri tanpa bekal keterampilan dan pengetahuan yang memadai.
Dengan demikian, banyaknya lowongan pekerjaan di negeri sendiri, meningkatnya jenjang pendidikan adalah gaung lama yang sangat signifikan untuk memperbaiki kondisi mereka. Tinggal, bagaimana keseriusan pemerintah dalam menangani tentang perempuan Indonesia dan bukan sebagai bahan eksploitasi pemasukan devisa negara dari penderitaan keluarga yang berkepanjangan.
Semoga melalui tulisan mengenai "Perempuan Indonesia" ini menjadi salah satu bahan renungan bagi semua pihak, khususnya bagi yang berwenang dalam menangani permasalahan perempuan. Sehingga ke depannya dapat meningkatkan tarap hidup kaum perempuan Indonesia. HIDUP PEREMPUAN INDONESIA!
WANITA DAN MODERNINASI
Dilahirkan sebagai seorang wanita Indonesia yang terikat dengan norma serta budaya ketimuran bukanlah merupakan sebuah pilihan. Namun, untuk menjadi seorang wanita Indonesia dengan memiliki wawasan modern tanpa harus melupakan kodrat yang telah ditakdirkan, adalah sebuah pilihan.
WANITA DAN MODERNINASI
Dilahirkan sebagai seorang wanita Indonesia yang terikat dengan norma serta budaya ketimuran bukanlah merupakan sebuah pilihan. Namun, untuk menjadi seorang wanita Indonesia dengan memiliki wawasan modern tanpa harus melupakan kodrat yang telah ditakdirkan, adalah sebuah pilihan.
Wanita dan modernisasi adalah dua buah kata yang didefinisikan menjadi sebuah kalimat "Wanita modern" bukan "Modernisasi Kaum Wanita". Pengertian wanita modern disini jangan disalahtafsirkan menjadi sosok "super woman" yang tidak membutuhkan kehadiran sosok pria dalam kehidupannya atau memposisikan pria sebagai "pelengkap" semata hanya karena jabatan ataupun secara materi yang mereka peroleh.
Wanita modern adalah seorang wanita yang berwawasan modern tanpa harus melupakan kodratnya. Kaum wanita dapat terjun dan meraih prestasi yang setinggi-tingginya dalam bidang apapun, tanpa mengesampingkan kewajiban utamanya sebagai seorang ibu rumah tangga maupun istri dari seorang suami yang harus mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi penerus yang berkualitas dan berbudi pekerti luhur, selain tetap menjaga kehormatan suami sebagai sosok kepala keluarga.
Sosok wanita modern Indonesia pun janganlah disamaartikan dengan sosok wanita modern di negara lain, mengingat kultur maupun norma kehidupan yang berbeda. Perbedaan tersebut tentunya akan mempengaruhi pula makna dari wanita modern itu sendiri.


